Khalifah Umar bin Abdul Aziz bingung saat kepala baitul mal menyampaikan kabar gembira. Bahwasanya zakat-zakat yang telah dibayarkan para penduduk mengalami surplus. Pun, jika zakat-zakat itu dibagikan kembali pada fakir miskin maka mereka menolaknya. Menolak karena jatah kesejahteraan mereka telah dijamin oleh pemerintah. Sehingga mereka tidak lagi memerlukan subsidi zakat. Alhasil, dana surplus zakat di Baitul Mal akhirnya digunakan untuk membiayai mas kawin para pemuda-pemuda muslim yang ingin menikah. Walaupun begitu, dana surplus zakat tetap saja terjadi pada masa pemerintahan khilafah Umar bin Abdul Aziz.
Kisah kejayaan pemerintahan Islam di zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz hingga kini seolah menjadi legenda. Padahal, kejayaan-kejayaan itu telah nyata dan hadir dalam kehidupan dunia islam kontemporer. Seperti kisah Raja Harun Al-Rasyid yang terus dikisahkan karena keadilannya, atau Kesultanan Turki Ottoman dengan kebesaran daerah kekuasaannya. Dunia, dan masyarakat kita seolah memandang bahwa kisah-kisah itu hanya ditemukan di dongeng anak-anak kecil. Perasaan skeptis bahwa Islam pernah menguasai sepertiga benua menjadi hal umum di pemikiran masyarakat Islam. Mereka utopis dan terlena dengan kejayaan-kejayaan kapitalis dan model-model idealisme baru. Sementara, kisah kejayaan Islam seolah hanya menjadi kisah masa lalu. Usang dan tidak relevan dengan zaman.
“Tidak perlu menjadi seorang sejarawan dalam memahami sejarah”, begitu kata Prof. Kuntowijoyo. Seorang sejarawan dan cendekiawan muslim dari UGM. Menurut beliau, memahami sejarah islam bisa dipahami oleh semua muslim bukan hanya sebatas sejarah saja. Tetapi, juga pemahaman budaya dan pranata-pranata peradaban Islam. Pranata peradaban yang terlihat dari sejarah kejayaan Islam beberapa abad yang lalu. Saat Khalifah Umar bin Abdul Aziz Berjaya, maka kejayaan pengelolaan keuangan negara yang terlihat. Saat Khalifah Harun Al-Rasyid memimpin, kisah-kisah kebijaksanaan dan keadilan yang terus tercermin. Begitu juga dengan pemimpin-pemimpin islam lainnya. Mereka memimpin dengan nilai-nilai Islam yang terus dijaga dalam kehidupan pemerintahannya. Khalifah Umar memperbaiki sistem keuangan negara dengan proses kesadaran berzakat dan bershodaqoh, sementara Khalifah Harun Al-Rasyid perbaikan dalam sistem-sistem peradilan Negara.
Sejarah kejayaan Islam ditulis dan disebarkan bukan untuk euphoria belaka. Tetapi sebagai sebuah pembelajaran dan panduan untuk memahami masa depan. Kisah-kisah pendidikan karakter para ulama terdahulu, hendaknya menjadi pembelajaran bagi kita di masa kini. Ulama terdahulu, menjalani pendidikan yang begitu ketat dan dalam koridor syariat Islam. Sejak kecil mereka diajarkan dekat dengan Islam. Terutama dengan Al-Qur’an dan Al-Hadist. Mereka dikenalkan ilmu-ilmu agama hingga kemudian ilmu-ilmu umum semacam astronomi, matematika, sains hingga filsafat. Oleh karena itu, ulama-ulama (yang sekaligus ilmuwan) terdahulu cerdas secara ruhaniyah dan pemikiran. Bagi mereka, tidak ada pembedaan antara ilmu agama dengan ilmu umum, karena keduanya saling mengisi dan menjelaskan. Maka, tidak heran jika ulama-ulama tersebut “terkesan” multitalenta. Mereka menguasai berbagai disiplin ilmu dan cerdas dalam hal agama. Sebut saja Ibnu Sina, seorang dokter, astronom dan ulama fiqh, atau Al-Ghazali, ulama fiqh yang pintar dalam pemikiran filsafat Islam.
Hail-hasil pendidikan islam yang diterima para ulama membuat mereka lebih bernas dalam mengelola negara. Bagi mereka, antara negara dan agama tidak ada pemisahan. Sehingga setiap detik kebijakan negara selalu dalam koridor-koridor syariat agama. Kebijakan-kebijakan tersebut berjalan karena mereka (para ulama dan pemegang amanah) selalu dekat dengan Al-Qur’an dan Hadist dimanapun berada. Penulis menjadi teringat sebuah kisah seorang tawanan Yahudi dalam sebuah peperangan dengan umat Islam. Saat itu, seorang Yahudi menjadi tawanan dalam barisan militer Islam. Sang tawanan merasa tenang dan tertegun, karena setiap malam umat Islam selalu mengerjakan shalat malam dan dekat dengan kitab Al-Qur’an. Dalam pandangan tawanan Yahudi tersebut, kedekatan umat Islam dengan Al-Qur’an akan membuat Islam semakin berjaya. Seolah waktu kemudian berputar, hingga kini Yahudi, Nasrani dan Majusi tetap akan menjadi musuh Islam. Hingga mereka mau kita mengikuti mereka. Kemauan mereka adalah umat Islam menjauhi ajaran Al-Qur’an dan Al-Hadist.
“Sesungguhnya Umat Islam terbelakang karena meninggalkan ajaran agamanya, sementara umat agama lain maju karena meninggalkan ajaran agamanya juga”
Oleh: Subandi Rianto
Ketua Umum SKI FIB UNAIR 2011
0 komentar:
Posting Komentar